Postingan

[ Ngoceh ] : Are You Crazy Looking for Something That Doesn't Know Where to Look Called "Judul Skripsi"?

Gambar
Semakin diurai semakin abstrak Kemana dan bagaimana saya harus membuat ini semua jelas tanpa keraguan? Setiap kepala ini terkoneksi dengan hal itu, ada aliran yang seperti menyengat Menyulut urat-urat Bergolak hebat Bergumul dalam dada dan melemahkan yang sebelumnya kuat Harus mendekam ke mana lagikah saya? Atau… Harus berguling-guling seperti apakah saya? Jika boleh saya mengatakan sesuatu padamu: Bisakah kamu datang dengan anggun dan elegan? Saya akan berusaha menjemput atau pun menunggumu dengan sabar Asal ketika kita bertemu, kamu memang yang terbaik dan tidak sedikit pun menyulitkan aku (Ansito Rini, dalam kebingungan dan ketidakwarasan mental) Apakah kamu termasuk mahasiswa semeter tua? Emm, sebaiknya kita definisikan dulu mahasiswa semeter tua di sini, atau… kita batasi dulu mahasiswa tua yang dimaksud itu yang bagaimana. Hm. Oke. Sepertinya aku sudah mulai terkena dampak proposal skripsi. Kamu mahasiswa semester enam? Mahasiswa y...

[ Cerita Panjang ] : Jangan Baca Kalau Males Baca

Gambar
“Kamu ngerasa nggak sih, kalau seiring umur kita bertambah, cobaan hidup yang kita rasain tu semakin gedhe? Kek levelnya naik gitu,” (Mbak Rita, tetangga kos gang kecil, 2016). K atanya, ketika orang udah masuk usia 20-an, akan ada suatu momen di mana batinnya tertekan, pikirannya terbebani, dan akhirnya ngaruh ke fisik. Rasanya nggak mood ngapa-ngapain. Segala macam makanan nggak masuk, ketawa rasanya hambar, bahkan punya tugas setumpuk nggak mau nyentuh sedikit pun. Hal besar itu begitu berpengaruh; yakni segala pertanyaan atau gejolak yang muncul dari dalam dirinya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan yang menyoal tentang: eksistensi, tujuan, dan evaluasi hidup. “Sebenernya aku hidup tu buat apa?” “Aku hidup ngapain, sih?” “Apa yang aku lakuin ini tu udah bener belum?” “Yang aku lakuin selama sekian-tahun ini tu apa aja?” Apakah pertanyaan-pertanyaan ini yang membayangiku selama berminggu-minggu ini? Sebaiknya, aku bercerita dulu apa yang terjadi padaku bel...

[Ngoceh] : Stay Posthink!

Gambar
Setiap orang punya pilihan hidup masing-masing. Pilihan dalam hal cara pandang, cara menghadapi masalah, cara bergaul, berteman, apapun. Dan… kita nggak bisa nyalahin orang lain atas apa yang mereka pilih. Kita cuma bisa ngarahin dia pada suatu pilihan yang baik menurut sudut pandang keilahian. Uweee. Apa sih. Bentar, bentar. Maaf udah ngebuat temen-temen semua mengernyitkan dahi karena paragraf yang njlimet itu. Kalau nyambung ya syukur, kalau enggak ya ngga papa. (Mulai nggak penting). Ehm. Pernah nggak punya pandangan dan cara menyikapi suatu hal yang berbeda dari orang lain? Dan ketika kamu lakuin itu… rasanya… seperti ada yang membisiki bahwa kamu… beda dari orang-orang di sekitarmu. Kamu beda. Kamu beda. Parahnya, timbul pemikiran bahwa kamu nggak layak bersama atau tetap berada di tengah-tengah mereka lagi. Sering hati kamu berontak, merasa tidak nyaman berlama-lama dengan mereka. Sesungguhnya… siapa yang salah? Kamu… atau mereka yang tak mampu menjadi ...

[Muisi]: Untuk Siapa

Gambar
Lelaki tua penjaja koran Berdiri tegak di pinggir perempatan Meluncur dari mulutnya sepotong-sepotong berita untuk membangkitkan rasa penasaran Tak terlihat keberatan Terhadap apa yang harus ia lakukan Kemudian aku bertanya... Sebenarnya, Untuk siapa semua ini ia lakukan? Perempuan tua pembawa kipas Ditebasnya asap yang membumbung dengan ikhlas Berharap daging-daging  yang ditusukinya segera melunak Bumbu kacang ia lumurkan dengan sangat pas Siang malam memikul tampah di atas kepala Berjalan dengan tawadhu' dan khusyu' Berkeliling ke desa-desa Melayani perut-perut manusia Sejenak, kemudian aku bertanya... Sebenarnya, Untuk siapa ia lakukan ini semua? Lelaki tua pembawa sapu Pagi, siang, sore, terus bergelut dengan debu Dengan sabar, ia sisir aspal jalanan Menyingkirkan daun-daun yang berguguran Baginya, menyenangkan hati orang adalah kebaikan Maka ditatanya jalanan-jalanan Agar sedikit lebih indah untuk dipandang Lama aku mengamatinya hingga hatiku ...

[Ngopini] : Nggak Ada Ide Buat Judul

Gambar
“Kalau semua orang di dunia ini baik, maka pada saat itulah sebenarnya, tidak ada lagi orang baik.” Well , masih ada yang bingung sama premis di atas? Premis? Apasih. Oke oke, kita ganti kata premis menjadi pernyataan. Maafkan aku membawa-bawa bahasan matematika di sini. Oke. Kalau semua orang di dunia ini baik, maka sebenarnya pada saat itu, tidak ada lagi orang baik. Kenapa? Gini deh... orang itu dikatakan baik karena apa? Karena ia memiliki sifat positif. Memiliki kelapangan hati, kesabaran multi, kepekaan sosial yang tinggi, dan segala sifat-sifat lain yang kita kategorikan sebagai sifat orang baik. Mari kita bahas satu persatu. Kelapangan hati itu ada, karena ada suatu kejadian yang menguji kelapangan hati kita sebelumnya. Semacam cobaan. Dan cobaan itu bermacam-macam. Salah satunya disebabkan oleh sifat buruk manusia bernama “nyebelin”. Kalau orang itu udah memiliki segel nyebelin, apapun yang dia lakukan pasti akan terlihat dan terasa nyebelin. Nyusahin, nggampangin,...

[Ngoceh] : Ini Ngigau Atau Apa... Entah

Ketika pada nyatanya, hidupmu tak se- wonderfull cerita-cerita yang selama ini kau tulis, bagaimana perasaanmu? Adalah aku, berkali-kali merajut kalimat untuk mengeluarkan kisah-kisah yang hidup dalam pikiranku. Berkali-kali cerita seru, menegangkan, bahkan menye-menye aku tulis dengan penuh perasaan. Tak jarang aku tertawa ataupun menangis gara-gara tulisanku sendiri. Dan betapa... hidup tokoh-tokoh khayalanku itu indah... pada akhirnya. Their daily life is never flat . Kemudian, bagaimana dengan hidupku sendiri? Menanyakan itu pada diriku sendiri membuatku tersenyum kecut. Abstrak. Sulit dijelaskan. Karena apa ya? Konflik hidupku... itu-itu aja. Suatu saat, aku membayangkan bahwa aku adalah seorang tokoh utama dari sebuah novel yang dikarang oleh seseorang. Aku penasaran... kira-kira, akhir seperti apa yang pantas untukku? Dan sebenarnya... kisah yang aku lalui ini termasuk genre apa? Inspiratif, kah? Religi? Komedi? Atau malah Romance? Jikalau hidupku ini t...

Sepenggal Cerita di Suatu Tempat

Kawan, izinkan aku menceritakan sebuah kisah. Bukan. Lebih kepada seseorang. Bahwa di sebuah kampus tempatku menimba ilmu, ada sebuah tempat para mahasiswa-mahasiswa memuaskan perut mereka. Sebut saja tempat itu foodcourt. Kesenjangan pengunjung dapat dilihat dengan mudah. Yang laris terlalu laris (sampai beberapa kali harus menunggu lama banget-nget-nget saking antri pesanannya), dan yang sepi juga terlalu sepi. Sampai kau tahu kawan? Baru saja aku berdiri di depan kedai mereka, si penjual dengan ramah lagi riang gembira menyambutku, menanyakan dengan perhatian terhadap apa yang ingin kupesan. Hmm. Itu sedikit membuatku... ternyuh. Dan kawan, ada beberapa yang seperti itu memang. Riil. Nyata. Sungguhan. Bener. Suwer. Namun, ada satu yang membuatku terkesan. Membuatku hatiku terasa tentram karena bahagia ketika mengingatnya. Yah, memang seperti itu kan kebaikan? Menenangkan dan membuat bahagia walau kita bukan sebagai pelaku atau sasaran kebaikan itu. Melihat orang berbuat baik saj...