Postingan

Menampilkan postingan dengan label belajar hikmah

Jejak Digital Akhir Semester

Gambar
Sudah satu semester saya menjadi apa yang saya bayangkan tiap malam lima tahun lalu. Menjadi guru matematika di pondok pesantren. Tidak sadar bahwa saya dulu membayangkan sedetail itu. Dan tidak menyangka juga, Allah wujudkan sepresisi ini. Maka , nikmat Allah mana lagi yang akan saya dustakan? (Catatan: Terima kasih pada Pak Kamto, guru Biologi SMA saya, yang telah mengajarkan ilmu visualisasi. Percayalah Pak, saya mengamalkan apa yang Bapak sampaikan setiap malam – memvisualisasikan peran masa depan saya – yang mungkin banyak dianggap bualan bagi teman-teman yang lain karena terlalu seringnya Bapak bercerita daripada menjelaskan materi. Tapi bagi saya, setiap apa yang Bapak ceritakan lebih berharga dari materi yang tertuang pada buku-buku tebal itu. Melalui Bapak saya mendapatkan sudut pandang baru.) Sebelum santri saya harus pulang karena penyebaran virus korona yang semakin masif, telah sempat saya lewati hari-hari bahagia bersama mereka. Berbisik pada diri sendiri berulang k...

[ Ngopini ] : Justifikasi Bisa Melukai. Anda Merasa Suci? Baca Ini!

Gambar
Dua hari yang lalu, saya memposting story Whatsapp yang intinya berisi beberapa fakta yang dimiliki mahasiswa calon guru matematika untuk melawan mitos: guru matematika adalah guru paling galak sedunia. Sontak beberapa adek saya-sebut saja murid saya ketika PLT kemarin, dan juga beberapa teman saya mengomentari. Sebagian besar bilang bahwa mitos itu bukan sekedar mitos, tapi memang benar adanya. Sebuah kesimpulan yang diperoleh berdasarkan pengalaman mereka selama ini. Namun tentu saja, kesimpulan itu tidak bisa diatasnamakan secara global, karena guru-guru yang mereka temui hanya sekedar sampel. Apa, sih. Sok-sok matematis. Oke, serius. Jadi ada satu jawaban dari seorang murid yang membuat saya agak berpikir dan merenung. Fyi murid saya waktu PLT kemarin adalah murid SMA. Dia berkomentar, “Kalo buat mbak Rini mitos, tapi kalau buat yang lain fakta.” Hmmmm. Dengan cepat saya membalas, “ Lho , don’t judge the book by its cover, dek .” “Kenyataan kok, mbak,” katanya ngeye...

[ Lagi Bener ] : (Bukan Lagi) Sebuah Rahasia

Gambar
Petang ini, saya terkapar tak berdaya di ruang tengah. Letih. Bahkan mata saya sempat kunang-kunang dan bisa merasakan aliran darah yang menyebar di sekujur tubuh saya sendiri, adem-panas kalau orang bilang. Mata saya membuka, menerawang,  karena ketika mencoba menutup, kepala saya justru terasa pusing dan suara-suara nyaring berdenging memenuhi gendang telinga, tak peduli bahwa saya tersiksa karenanya. Akhir-akhir ini saya merasa otot-otot saya begitu lelah, tengkuk-lengan-kaki, seluruh tubuh tanpa kecuali. Mungkin kelelahan itu yang membuat berat badan saya turun, setelah sempat naik beberapa hari sebelumnya. Entah apa korelasi antara kelelahan dengan turunnya berat badan, tapi perlu dicatat bahwa itu hanya kemungkinan… oke? Hal itulah yang mengukir kesedihan yang sungguh sangat dalam. Lebay? Tidak! Ini serius! Bagi saya, kehilangan berat badan sekecil apapun sangat membuat saya sedih, karena saya sudah bekerja keras untuk mencoba menaikkan berat badan. Kemarin, saya lega bi...

[Muisi]: Untuk Siapa

Gambar
Lelaki tua penjaja koran Berdiri tegak di pinggir perempatan Meluncur dari mulutnya sepotong-sepotong berita untuk membangkitkan rasa penasaran Tak terlihat keberatan Terhadap apa yang harus ia lakukan Kemudian aku bertanya... Sebenarnya, Untuk siapa semua ini ia lakukan? Perempuan tua pembawa kipas Ditebasnya asap yang membumbung dengan ikhlas Berharap daging-daging  yang ditusukinya segera melunak Bumbu kacang ia lumurkan dengan sangat pas Siang malam memikul tampah di atas kepala Berjalan dengan tawadhu' dan khusyu' Berkeliling ke desa-desa Melayani perut-perut manusia Sejenak, kemudian aku bertanya... Sebenarnya, Untuk siapa ia lakukan ini semua? Lelaki tua pembawa sapu Pagi, siang, sore, terus bergelut dengan debu Dengan sabar, ia sisir aspal jalanan Menyingkirkan daun-daun yang berguguran Baginya, menyenangkan hati orang adalah kebaikan Maka ditatanya jalanan-jalanan Agar sedikit lebih indah untuk dipandang Lama aku mengamatinya hingga hatiku ...

[Ngopini] : Nggak Ada Ide Buat Judul

Gambar
“Kalau semua orang di dunia ini baik, maka pada saat itulah sebenarnya, tidak ada lagi orang baik.” Well , masih ada yang bingung sama premis di atas? Premis? Apasih. Oke oke, kita ganti kata premis menjadi pernyataan. Maafkan aku membawa-bawa bahasan matematika di sini. Oke. Kalau semua orang di dunia ini baik, maka sebenarnya pada saat itu, tidak ada lagi orang baik. Kenapa? Gini deh... orang itu dikatakan baik karena apa? Karena ia memiliki sifat positif. Memiliki kelapangan hati, kesabaran multi, kepekaan sosial yang tinggi, dan segala sifat-sifat lain yang kita kategorikan sebagai sifat orang baik. Mari kita bahas satu persatu. Kelapangan hati itu ada, karena ada suatu kejadian yang menguji kelapangan hati kita sebelumnya. Semacam cobaan. Dan cobaan itu bermacam-macam. Salah satunya disebabkan oleh sifat buruk manusia bernama “nyebelin”. Kalau orang itu udah memiliki segel nyebelin, apapun yang dia lakukan pasti akan terlihat dan terasa nyebelin. Nyusahin, nggampangin,...