Postingan

[ Ngoceh ] : Soal Kejenuhan, Pernikahan, dan Kesendirian

Gambar
Dua minggu yang lalu tepatnya satu hari sebelum tanggal 1 Oktober, teman saya yang sama-sama suka nulis dan sering berpacu dalam hal tulis-menulis menantang saya untuk mengadakan program untuk diri sendiri ala-ala InkTober. Nulis di blog selama sebulan penuh, katanya. Membayangkannya saja saya seperti ingin gumoh . Karena sampai sekarang pun, motivasi saya nulis hanyalah ‘pengen’, atau ‘ngebet ingin menyampaikan sesuatu’. Kalau untuk sesuatu yang mengikat, saya angkat tangan. Bahkan program #7HariBerkisah yang selalu saya lakukan tiap akhir semester, kemarin tidak terlaksana. Mungkin energinya sudah habis buat nulis #MembunuhPerasaan. Tapi saya berjanji pada diri saya sendiri tidak akan membiarkan #7HariBerkisah musnah begitu saja. Singkatnya, sehari setelah teman saya menawarkan program tersebut, dia langsung membagikan link postingan barunya. Gercep , batin saya. Langsung saja saya meluncur dan membaca tulisannya karena kebetulan saya butuh hiburan waktu itu. Coba baca, tulisan...

[ Ngoceh ] : Sepenggal Kisah di Dua Pekan Awal

Gambar
“Ya memang, awal-awal jadi guru pasti kamu akan idealis. Tapi, lama-lama kamu akan capek menyaksikan kondisi dunia pendidikan yang sebenarnya. Miris, mbak. Yang ada cuma jengkel. Apa-apa serba salah, banyak tuntutan, banyak tekanan. Yang ‘luweh’ bakal ‘cari aman’, hanya sedikit yang masih bisa ‘tahan’. Pendidikan karakter digembor-gemborkan di kelas, tapi pelaksanaan sistemnya sama aja. ” -Seorang guru, 2018. Baru dua pekan kira-kira, aku-saya-gue-ai (terserah saya mau nyebut diri sendiri apa. Dulu-dulu sih ‘aku’, akhir-akhir ini ‘saya’, tapi untuk saat ini kayaknya pengen ‘gue’ aja. Because this post is classified to ‘ngoceh tegangan tinggi’. Biar mantep gitu, nge- feel . Tapi sepertinya nggak cocok juga. Nggak cocok dengan kepribadian saya yang kalem (?) Saya yakin kalau teman-teman saya baca ini akan protes. Tapi biar saja, iri tanda tak mampu. Intinya, saya lebih suka ‘saya’. Lebih romantis.) menjalani Praktik Lapangan Terbimbing di salah satu sekolah menengah atas. Untuk s...

[ Lagi Bener ] : (Bukan Lagi) Sebuah Rahasia

Gambar
Petang ini, saya terkapar tak berdaya di ruang tengah. Letih. Bahkan mata saya sempat kunang-kunang dan bisa merasakan aliran darah yang menyebar di sekujur tubuh saya sendiri, adem-panas kalau orang bilang. Mata saya membuka, menerawang,  karena ketika mencoba menutup, kepala saya justru terasa pusing dan suara-suara nyaring berdenging memenuhi gendang telinga, tak peduli bahwa saya tersiksa karenanya. Akhir-akhir ini saya merasa otot-otot saya begitu lelah, tengkuk-lengan-kaki, seluruh tubuh tanpa kecuali. Mungkin kelelahan itu yang membuat berat badan saya turun, setelah sempat naik beberapa hari sebelumnya. Entah apa korelasi antara kelelahan dengan turunnya berat badan, tapi perlu dicatat bahwa itu hanya kemungkinan… oke? Hal itulah yang mengukir kesedihan yang sungguh sangat dalam. Lebay? Tidak! Ini serius! Bagi saya, kehilangan berat badan sekecil apapun sangat membuat saya sedih, karena saya sudah bekerja keras untuk mencoba menaikkan berat badan. Kemarin, saya lega bi...

[ Membunuh Perasaan ] : Kematian 'Si Pembuat Ulah'

Gambar
 EPISODE 1 | EPISODE 2 | EPISODE 3 Saya bukan perempuan serba kuat, yang dengan mudah bisa rela dan ikhlas begitu saja. Kadang rasa ini masih dikotori oleh perasaan egois, yang sebenarnya sangat tidak layak saya miliki. Merasa cemburu itu wajar bukan? Tapi saya tidak berhak merasakan hal itu sama sekali. Kenapa? Karena kamu. Bukan. Milik saya. Hal itu lah yang membuat saya cepat-cepat ingin menyingkirkanmu dari hati saya, pikiran saya, bahkan mata saya. Kata orang, jatuh cinta itu tidak pernah tepat waktu. Ketika kamu jatuh cinta pada seseorang, belum tentu orang yang kamu jatuhi cinta itu juga merasakan hal yang sama. Maka saya anggap ini bukan waktunya. Dalam masa melepaskan diri darimu itu, saya membutuhkan teman untuk membimbing saya. Pada suatu malam, saya jujur pada salah seorang teman, “Aku lagi pengen… ngelupain seseorang.” Teman yang menjadi karib saya sejak SMA itu mengernyitan dahi, “Maksudnya?” “Memutuskan harap pada manusia,” ungkapku dengan napa...

[ Membunuh Perasaan ] : Ingin Berhenti

Gambar
EPISODE 1 | EPISODE 2 Kamu… apa kabar? Saya merindukan rentetan laporan keluh kesahmu sekaligus momen saat kita saling berbagi beban dan ketidakkuasaan. Karena untuk sekarang, sepertinya hal itu sudah tak mungkin lagi kita lakukan. “Menurutmu gimana?” “Aku bingung harus jawab apa.” “Kamu udah tahu belum…?” “Kamu harus kuat. Cuma kamu satu-satunya yang bisa aku andelin.” “So what? Emang aku mikirin?” “Jangan gitu. Kamu nggak boleh nyerah… aku semangatin!” Kata-kata yang masih lekat dalam ingatan saya berikut bagaimana kamu mengucapkannya. Sering kita berdiskusi, atau hanya mengobrol, mulai dari yang serius sampai remeh temeh. Baik langsung, atau pun hanya lewat pesan chatting . Kadang saya khawatir… khawatir jika saya terlalu bergantung padamu. Saat ini pun saya sadar bahwa dosa terbesar saya bersamamu adalah menceracau hingga dini hari sampai lupa waktu hampir setiap hari. Hal besar yang kamu ajarkan pada saya adalah menahan diri untuk tidak menguraikan kesulit...