Postingan

[ Ngoceh ] : Sepenggal Kisah di Dua Pekan Awal

Gambar
“Ya memang, awal-awal jadi guru pasti kamu akan idealis. Tapi, lama-lama kamu akan capek menyaksikan kondisi dunia pendidikan yang sebenarnya. Miris, mbak. Yang ada cuma jengkel. Apa-apa serba salah, banyak tuntutan, banyak tekanan. Yang ‘luweh’ bakal ‘cari aman’, hanya sedikit yang masih bisa ‘tahan’. Pendidikan karakter digembor-gemborkan di kelas, tapi pelaksanaan sistemnya sama aja. ” -Seorang guru, 2018. Baru dua pekan kira-kira, aku-saya-gue-ai (terserah saya mau nyebut diri sendiri apa. Dulu-dulu sih ‘aku’, akhir-akhir ini ‘saya’, tapi untuk saat ini kayaknya pengen ‘gue’ aja. Because this post is classified to ‘ngoceh tegangan tinggi’. Biar mantep gitu, nge- feel . Tapi sepertinya nggak cocok juga. Nggak cocok dengan kepribadian saya yang kalem (?) Saya yakin kalau teman-teman saya baca ini akan protes. Tapi biar saja, iri tanda tak mampu. Intinya, saya lebih suka ‘saya’. Lebih romantis.) menjalani Praktik Lapangan Terbimbing di salah satu sekolah menengah atas. Untuk s...

[ Lagi Bener ] : (Bukan Lagi) Sebuah Rahasia

Gambar
Petang ini, saya terkapar tak berdaya di ruang tengah. Letih. Bahkan mata saya sempat kunang-kunang dan bisa merasakan aliran darah yang menyebar di sekujur tubuh saya sendiri, adem-panas kalau orang bilang. Mata saya membuka, menerawang,  karena ketika mencoba menutup, kepala saya justru terasa pusing dan suara-suara nyaring berdenging memenuhi gendang telinga, tak peduli bahwa saya tersiksa karenanya. Akhir-akhir ini saya merasa otot-otot saya begitu lelah, tengkuk-lengan-kaki, seluruh tubuh tanpa kecuali. Mungkin kelelahan itu yang membuat berat badan saya turun, setelah sempat naik beberapa hari sebelumnya. Entah apa korelasi antara kelelahan dengan turunnya berat badan, tapi perlu dicatat bahwa itu hanya kemungkinan… oke? Hal itulah yang mengukir kesedihan yang sungguh sangat dalam. Lebay? Tidak! Ini serius! Bagi saya, kehilangan berat badan sekecil apapun sangat membuat saya sedih, karena saya sudah bekerja keras untuk mencoba menaikkan berat badan. Kemarin, saya lega bi...

[ Membunuh Perasaan ] : Kematian 'Si Pembuat Ulah'

Gambar
 EPISODE 1 | EPISODE 2 | EPISODE 3 Saya bukan perempuan serba kuat, yang dengan mudah bisa rela dan ikhlas begitu saja. Kadang rasa ini masih dikotori oleh perasaan egois, yang sebenarnya sangat tidak layak saya miliki. Merasa cemburu itu wajar bukan? Tapi saya tidak berhak merasakan hal itu sama sekali. Kenapa? Karena kamu. Bukan. Milik saya. Hal itu lah yang membuat saya cepat-cepat ingin menyingkirkanmu dari hati saya, pikiran saya, bahkan mata saya. Kata orang, jatuh cinta itu tidak pernah tepat waktu. Ketika kamu jatuh cinta pada seseorang, belum tentu orang yang kamu jatuhi cinta itu juga merasakan hal yang sama. Maka saya anggap ini bukan waktunya. Dalam masa melepaskan diri darimu itu, saya membutuhkan teman untuk membimbing saya. Pada suatu malam, saya jujur pada salah seorang teman, “Aku lagi pengen… ngelupain seseorang.” Teman yang menjadi karib saya sejak SMA itu mengernyitan dahi, “Maksudnya?” “Memutuskan harap pada manusia,” ungkapku dengan napa...

[ Membunuh Perasaan ] : Ingin Berhenti

Gambar
EPISODE 1 | EPISODE 2 Kamu… apa kabar? Saya merindukan rentetan laporan keluh kesahmu sekaligus momen saat kita saling berbagi beban dan ketidakkuasaan. Karena untuk sekarang, sepertinya hal itu sudah tak mungkin lagi kita lakukan. “Menurutmu gimana?” “Aku bingung harus jawab apa.” “Kamu udah tahu belum…?” “Kamu harus kuat. Cuma kamu satu-satunya yang bisa aku andelin.” “So what? Emang aku mikirin?” “Jangan gitu. Kamu nggak boleh nyerah… aku semangatin!” Kata-kata yang masih lekat dalam ingatan saya berikut bagaimana kamu mengucapkannya. Sering kita berdiskusi, atau hanya mengobrol, mulai dari yang serius sampai remeh temeh. Baik langsung, atau pun hanya lewat pesan chatting . Kadang saya khawatir… khawatir jika saya terlalu bergantung padamu. Saat ini pun saya sadar bahwa dosa terbesar saya bersamamu adalah menceracau hingga dini hari sampai lupa waktu hampir setiap hari. Hal besar yang kamu ajarkan pada saya adalah menahan diri untuk tidak menguraikan kesulit...

[ Membunuh Perasaan ] : Rasa yang Terpantik

Gambar
PREVIOUS EPISODE - PROLOG Sabtu, 24 Oktober 2015 Hari itu untuk pertama kalinya saya bersitatap denganmu. Kemeja batik dan celana kain hitam adalah setelan yang hari itu kamu kenakan, demikian juga dengan saya: kerudung hitam, baju batik, dan rok kain hitam. Kita berkesempatan menjadi sebuah tim dalam sebuah internship di salah satu stasiun televisi nusantara. Kita jadi gembalaan yang harus siap sedia dan menurut untuk disuruh apa saja. Interaksi kita hanya sebatas temu waktu itu, tanpa senyum apalagi sapa. Hal yang membuat saya terkesan padamu adalah bahwa kamu orang yang profesional, humoris, dewasa, totalitas, santai, dan yang terpenting tidak modusan . Enam bulan kemudian, panggilan untuk menjadi bagian dari crew yang sesungguhnya sama-sama kita terima. Dalam tim produksi, saya dan kamu memulai uraian benang kenangan ini. “Rin, udah selesai?” “Rin bantu ini, ya?” “Rin yang nyerahin ini ke editor kamu aja gimana?” “Rin tolong….” Begitu permintaanmu pada saya ya...